“MEMBENTUK PRIBADI MULIA DENGAN ADAB ISLAMI”


Mekdi, Kaila2026

    Dalam uraiannya, penceramah mengucapkan rasa syukur alhamdulillah bahwa pada kesempatan ini kita masih diberi kesehatan oleh Allah SWT, sehingga kita bisa berkumpul kembali, bersilaturahmi, bertemu muka, dalam kegiatan Kaila yang biasa kita laksanakan pada minggu kedua dan ke empat setiap bulannya, dan hari ini kita memulai lagi di kegiatan Kaila setelah sekian lama kita berpisah yakni kurang lebih selama tiga  minggu sebelum dan sesudah liburan hari raya. Mudah-mudahan dengan hadirnya semua ini di kegiatan Kaila, memberi berkah ilmu yang melimpah bagi kita semua.  Amin Ya Rabbal Alamin.  Marilah momen yang baik ini kita manfaatkan dengan mendengarkan dan meresapi secara seksama materi yang nanti akan kita sampaikan.  Adapun tema yang akan kita ambil pada Kaila kali ini berjudul membentuk pribadi mulia dengan adab islami. Tema ini sengaja kita ambil sebagai kajian Kaila ini tiada lain untuk menjawab keresahan yang selama ini sering kita dengar, ataupun lihat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di berbagai media sosial sudah banyak dipertontonkan betapa mirisnya sebagian dari generasi kita terutama anak-anak seusia kalian sudah tidak mengenal apa yang dinamakan adab, prilaku, tata krama, sopan santun yang baik terhadap orang tua, guru, keluarga, atau orang lain, bahkan sesama teman.   Ini menunjukkan betapa minimnya nilai-nilai kebaikan yang ada pada generasi kita. Dan tentunya semua memiliki faktor penyebab mengapa kondisi ini bisa terjadi dan menimpa pada kalian sebagai anak-anak usia muda. 

 Mari kita bahas satu persatu, apa yang penyebab sebenarnya dan mengapa bisa terjadi kondisi seperti ini, yang pertama kurangnya pendidikan karakter. Sejauh ini pendidikan karakter yang diterima oleh anak-anak cenderung belum maksimal dilakukan, baik oleh orang tua dirumah maupun guru di sekolah. Di rumah, kadang-kadang orang tua sudah jarang menasehati anaknya untuk bisa menghargai dan  menghormati bapak ibunya, melalui penerapan hal-hal yang kecil misalnya ketika ibu bapaknya sedang bekerja atau melakukan aktivitas keluarga, kadang kita sebagai anaknya cuek saja, tidak ada kepedulian untuk membantu kedua orang tuanya, membiarkan orang tua kerja keras, padahal hasil pekerjaan itu dapat dinikmati dan dirasakan oleh keluarga khususnya kita sebagai anaknya.  Disamping itu orang tua juga, tidak berani menegur atau menyuruh anaknya untuk membantu apa yang sedang ia kerjakan.  Maka apa yang terjadi jika kondisi ini terus kita pelihara, yang jelas pendidikan karakter itu akan jauh dari harapan kita.  Satu sisi anak cenderung tidak ada kemauan untuk membantu orang tua sendiri dan sisi lain orang tuanya juga tidak secara langsung mendidik prilaku yang baik, memberikan contoh dengan mengajak anaknya mengikuti apa yang dikerjakan orang tuanya.  Maka dari itu melalui kegiatan Kaila ini diharapkan kalian semua tahu contoh sikap yang baik yang harus dilakukan tidak hanya kepada orang tua, kepada siapapun, agar hidup kita benar-benar dicintai dan dihargai oleh orang lain. 

  Salah satu riwayat di zaman Nabi yang mengisahkan bagaimana adab seorang sahabat memperlakukan Nabi sebagai tamu ketika baginda Rosulullah berkunjung ke Madinah untuk bertemu dengan orang-orang Madinah,  padahal mereka tidak tahu, tamu yang akan datang ke Kota Madinah itu adalah seorang Nabi. Namun demikian mereka begitu menjunjung adab yang mulya, mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan tamu.  Salah satu akhlak para sahabat di Kota Madinah adalah menjamu Nabi dengan menyiapkan tempat tinggal yang nyaman. Sedangkan Nabi waktu itu tidak serta merta menerima dan memilih setiap tawaran penduduk Madinah sesuka hati sebagai tempat yang akan beliau tinggali. Beliau lebih mengedepankan adab untuk menghargai seluruh masyarakat Madinah yang berusaha ingin beliau tinggal di rumahnya melalui seekor unta yang disuruh oleh baginda Rosulullah untuk mengelilingi rumah-rumah yang ada di wilayah itu dan jika unta itu duduk di suatu rumah tertentu, maka di rumah itulah Nabi akan tinggal. Setelah unta lama berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain, Tak lama kemudian tiba-tiba unta itu duduk di salah satu rumah penduduk Madinah yang bernama Ayub. Hati Ayub sangat senang, bahwa rumahnya telah dipercaya Nabi dan akan dijadikan tempat tinggal dalam menyebarkan ajaran Islam. 

   Rumah Ayub letaknya strategis, karena berdekatan dengan lokasi masjid yang akan dibangun Nabi, yang sekarang kita kenal dengan masjid Nabawi.  Secara fisik rumah Ayub cocok dan layak menjadi tempat tingal Nabi, walapun sederhana, dan ruanganya terdiri  dari 2 lantai. Sebagai seorang sahabat yang baik tentunya Ayub mempersilahkan tamunya, yakni Nabi untuk menempati ruangan paling atas sebagai bentuk penghormatan kepada tamunya.  Nabi waktu itu tidak langsung menerima tawaran Ayub, beliau lebih suka menempati ruangan paling bawah, dengan alasan mudah menerima tamu yang akan berkunjung dan menemui beliau kapan saja.  Hari-hari terus dilalui Ayub dengan kebersamaan Rosulullah di rumahnya, namun setiap malam Ayub dan Istrinya tidak bisa tidur, terus memikirkan baginda Nabi yang tinggal di bawah ruangannya.  Ayub merasa tidak sopan jika dirinya dan  istrinya terus-terus an tinggal di atas dan dibawah ada tamunya.  Suatu ketika menjelang malam tiba, Ayub tak sengaja menumpahkan air minum, dan jatuh ke lantai yang mana lantai nya terbuat dari papan kayu otomatis airnya tembus ke selah-sela lantai bawah yang ada baginda Nabi dan waktu itu sedang beristirahat. Paginya, Ayub berkata, Ya Rosulullah malam tadi aku menumpahkan air minum dari gelas,  aku takut airnya kena pada tubuhmu ya Rosulullah.  Rosul cuma tersenyum, iya Ayub. Ayub langsung meminta maaf seraya mengelap bagian tubuh Rosulullah yang terkena oleh tetesan air yang tumpah. Semenjak itulah, Ayub terus membujuk Rosulullah untuk bersedia pindah ke ruang atas.  dan  Nabi pun mengalah untuk kebaikan, mulai tinggal di ruangan atas sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah yang menginginkan dirinya tinggal diatas.

      Ini adalah sebuah peristiwa yang patut dicontoh oleh kita semua,  dimana, baik Nabi ataupun sahabat Nabi masing-masing memiliki adab yang tinggi. bagaimana Ayub memperlakukan tamunya begitu baik dan sebaliknya Nabi memperlakukan tuan rumah dengan ramah dan penuh perhatian. Ini merupakan sebuah pelajaran yang berharga, yang patut kita contoh dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita.  Kita kadang-kadang sebagai anak tidak respon, ketika ke rumah  kita ada yang berkunjung tamu, dan tamu itu sendiri kerabat dekat keluarga kita, kita beranggapan tidak penting untuk menemuinya, kita seolah tidak peduli siapa yang datang, sehingga kita tak mengindahkan kedatanganya.  Maka tindakan yang kamu lakukan itu keliru dan perlu untuk kita rubah.  Adab yang baik kita sebagai tuan rumah dapat menghormati siapapun tamu yang datang, sebaiknya menemui untuk bersalaman.  Apalagi yang datang kerabat keluarga, yang memiliki garis keturunan yang sama untuk menyambung silataurahmi.

     Penyebab yang kedua dari hilangnya adab di kalangan anak-anak, yakni pengaruh lingkungan.  Lingkungan di mana kalian tinggal akan sangat besar pengaruhnya terhadap nilai-nilai kebaikan yang ada pada diri kalian.  Lingkungan akan secara otomatis memberikan pendidikan atau pelajaran bagi pembentukan kepribadian yang kalian miliki.  Oleh karena setiap anak akan mudah terlihat memiliki adab yang baik ataupun tidak baik melalui dimana anak itu bergaul, dengan siapa anak itu berhubungan, maka kebiasaan itu akan nampak secara jelas.  Sehingga kami mengharapkan kalian semua untuk selalu berhati-hati dalam memilih  dengan siapa dan lingkungan mana yang harus kalian pilih ketika akan bergaul,  jangan sampai kalian semua salah pergaulan, yang bisa menyebabkan kerugian  kalian sindiri yakni hilangnya prilaku yang baik.  Contoh kecil yang sering kami dengar, yakni berkata kasar, berkata dengan kata-kata binatang yang sebenarnya tidak pantas untuk diucapkan oleh seorang pelajar, tapi masih saja diucapkan disela-sela pembicaraan dengan teman-temanmu yang lain, dan sedihnya lagi, kata-kata tersebut digunakan dilingkungan sekolah. Sangat tidak etislah, ketika bahasa-bahasa itu tumbuh di lingkungan sekolah atau sarana belajar  yang dianggap oleh kita semua sebagai tempat untuk mencari ilmu kebaikan, bisa dikotori dengan bahasa-bahasa yang kurang terpuji.  Maka untuk itu, batasilah pergaulan-pergaulan, terutama dilingkungan luar sekolah yang justru akan mengubah prilaku baik kalian menuju prilaku negatif yang tidak mencerminkan kita sebagai seorang yang terpelajar.  Marilah kita sama-sama junjung adab prilaku yang baik dimana saja kalian berada. Sebab adab lebih penting dari ilmu yang kalian dapatkan. 

   Mungkin itu saja materi Kaila kali ini yang bisa kami sampaikan, sebenarnya masih banyak yang ingin kami sampaikan yang berhubungan dengan adab prilaku yang baik, namun karena keterbatasan waktu yang disediakan singkat.  Insyallah kajian Kaila dengan tema yang sama akan diberikan di kesempatan lain.  Sekian dan terima kasih. Mohon maaf dari segala kekurangan. @Yud26






Popular posts from this blog